Begini Marahku, Begitu Marahmu

admin
No Comments

Oleh Hakim H. Afghandi

Apa kamu pernah melihat orang yang melempar barang-barang saat dia marah? Pernah juga melihat orang yang memukul orang lain saat marah? Atau pernah melihat orang yang berteriak-teriak saat marah? Atau bahkan kamu pernah melakukan hal-hal semacam itu? Hal-hal yang disebutkan tadi adalah di antara contoh-contoh ekspresi seseorang saat meluapkan marah. Ekspresi-ekspresi marah yang cenderung merusak dan dapat menyakiti diri serta orang lain.

Apa kamu sudah mampu mengendalikan marah? Bagaimana caranya? Sesungguhnya apa yang kita lakukan tidak pernah lepas dari pengaruh orang lain, termasuk dalam hal marah. Cara kita mengekspresikan rasa sedih, rasa senang, dan rasa marah itu semua berasal dari contoh-contoh yang kita saksikan dan himpun selama hidup kita. Sikap-sikap yang kita miliki hari ini tidaklah berdiri sendiri, melainkan meniru orang lain dengan turut melakukan cara-cara yang serupa, baik disadari ataupun tidak.

Contoh-contoh ekspresi marah yang dilakukan orang lain itu tidak selalu baik, tidak selalu benar, tidak selalu bijak, dan tidak selalu tepat. Kita jangan mensyaratkan bahwa yang disebut marah itu mesti memaki, harus menampar atau memukul, atau berteriak-teriak. Marah tidaklah harus demikian. Maka perlu disampaikan bahwa ekspresi rasa marah pun ada yang positif dan ada yang negatif. Selalu ada contoh-contoh ekspresi marah yang baik, benar, bijak, dan tepat asal kita mau bersungguh-sungguh mencari dan memperhatikan.

Ada kalanya contoh ekspresi marah yang terlanjur kita tiru bertahun-tahun merupakan contoh yang negatif, yang buruk, yang benar-benar memberi dampak kurang baik bagi kehidupan. Bisa dari pengaruh saudara, orang tua, keluarga besar, atau mungkin teman. Itu perlu diubah dan mesti berangkat dari kesadaran bahwa itu mesti diubah. Padahal, andai kita hanya mengucap, “Saya marah pada Ayah” dengan intonasi yang tenang sekalipun akan memberi peluang ayah kita untuk sadar bahwa kita sedang marah, misalnya. Hal yang lebih penting dari marah bukanlah puas marahnya, tapi sampainya pesan perihal apa kita menjadi marah.

Marah itu sebenarnya boleh, asalkan terpenuhi setidaknya 3 syarat, yaitu: tidak menyakiti diri baik secara fisik ataupun verbal, tidak menyakiti orang lain baik secara fisik ataupun verbal, dan tidak merusak barang-barang. Jika 3 syarat itu terpenuhi maka dapat dikatakan kita telah melakukan ekspresi marah yang aman dan terkendali.

Kemudian jika kita dapati hari ini kualitas marah kita masih buruk. Jika ingin berubah, ada 2 tahap yang mesti ditempuh agar marah kita menjadi berkualitas. Pertama, tambah pengetahuan. Bisa melalui membaca, diskusi, ikut pelatihan, seminar, menonton video, dst. Teladan terbaik kita untuk mengendalikan marah ada dalam diri Rasulullah Muhammad Saw., yuk baca cara-cara beliau! Sosok manusia pilihan yang sudah jelas sukses dan selamat dunia-akhirat. Bagian tambah pengetahuan ini cenderung mudah, bahkan orang yang cara marahnya buruk pun boleh jadi sudah memilikinya.

Kedua, latihan. Nah, ini yang agak berat. Orang yang sudah memiliki wawasan yang cukup soal mengendalikan marah pun bisa tetap buruk kualitas marahnya tanpa latihan. Latihan itu tidak mungkin seketika langsung bagus. Pasti jelek dulu, kemudian jeleknya berkurang, sampa akhirnya bisa bagus bahkan sangat bagus. Jangan takut jelek atau tidak terampil, latihan saja terus! Tahan, perhatikan, ekspresikan dengan baik dan tenang!

Teringat pesan sahabat mulia Imam Ali bin Abi Thalib RA, “Jika kamu bisa bersabar sejenak saat marah, maka itu bisa menyelamatkanmu dari ribuan penyesalan di masa depan”. Bismillah, terampil mengelola marah.

Bandung, 21/1/25

Share to :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Visit Us

Jl. Dago Giri No.5 Desa Pagerwangi

Kec. Lembang Kabupaten Bandung Barat